That random talk after this sunset began with me whining about myself and this beloved city, about why do I sometimes (if not most of the time) look at the negative sides and nyinyirin everything and everywhere possible

to “don’t just talk about the phenomenon and identify the social problem, like u still working on your bab 1. Go finish your research and you can dig and analyze better – bapake”

until we finally reach the core discussion, where finding “makna hidup” is as important as finding your “makna mati”, cuz isn’t it your life goal? 🙂

View on Path

Happy birthday, Bro!

Semester 1 –> Filsafat Psikologi
Semester 2 –> Simposium 2013
Semester 3 –> PDKM 2013
Semester 4 –> –
Semester 5 –> PDKM 2014
Semester 6 –> BEM 2015
Semester 7 –> BEM 2015
Semester 8 –> Tim Independen

Dari delapan semester di Psikologi, ternyata hanya satu semester yang gue ga kerja bareng lo, Yik. Kenyang gue, kenyang! Haha.

Selamat bertambah umur, Pak! Semoga umurnya makin berkah bagi diri sendiri dan banyak orang. Berikut terlampir do’a dan harapan gue buat lo setahun kedepan.

(more…)

Beberapa orang mungkin tahu betapa tidak sukanya aku pada negeri ini.

Terdengar sangat jahat, ya? Haha
Aku tidak suka pada birokrasi busuk di negara ini. Aku tidak suka pada banyaknya ketidakadilan yang dilakukan oleh mereka yang merasa punya kuasa. “Mereka ga mikir apa dampak dari kelakuan mereka itu gimana?” Batinku, terkadang. Aku tidak suka pada banyaknya intrik busuk, saling cela, saling tuding dan tuduh yang “mereka” lakukan untuk menutupi kejahatannya. Membaca Tempo bulan ini,
edisi blak-blakan tentang kisah di balik layar pengungkapan kasus-kasus besar di Indonesia, menguatkan rasa ketidaksukaanku. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak memikirkan dampak korupsinya pada bangsanya? Bagaimana mungkin ada orang yang tega menggunakan uang negara, dari yang Em-Em-an hingga berpuluh Te, untuk diri sendiri, keluarga, organisasi, maupun “bekingannya”. Dipikir uang negara itu punya nenek moyangnya apa?

Tapi setelah membaca seluruh artikelnya, aku belajar melihat sisi lain dari masalah-masalah yang ada di Indonesia tercinta ini.

Bahwa ada banyak manusia, dengan segala peran dan usahanyanya, berusaha menjadi cahaya di tengah kegelapan. Ada mereka yang berusaha menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Mulai dari investigasi, penelusuran data, pengecekan berulang kali hingga mengungkapkan hasil temuannya ke publik. Ada mereka yang rela mengorbankan keamanan diri maupun keluarga ketika melakukan liputan maupun memberikan kesaksian. Ada mereka yang gerah dengan fenomena busuk didepannya sehingga membuka mulut, beserta data yang ia punya agar kasus tersebut terselesaikan. Ada mereka yang masih percaya bahwa publik harus tahu yang sebenarnya sehingga berusaha memberikan edukasi dengan cara yang tepat.

Paling tidak, kini rasa ketidaksukaanku diimbangi dengan rasa percaya. Percaya bahwa masih ada (dan semoga masih banyak) orang-orang yang terus berjuang agar bangsa ini, Indonesia ini, menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Selamat ulang tahun, Tempo! Terima kasih sudah menemaniku dari dulu, sekarang, dan hingga nanti.

Ps: Terima kasih untuk hadiah rasa percayanya! 🙂

View on Path

Ha-TI (atau TI-su kak tisu, sometimes)

Hangat rasanya hari ini kembali duduk bersisian dengan mereka

Membagi tawa lepas yang lama terpendam
Membagi setitik air mata haru karena akhirnya kita disini, bersama

Kami pernah berjanji untuk berkumpul bersama
Walau janji hanya sebatas janji
Ternyata Ia mempertemukan kami dengan cara yang lebih indah
Ada setitik air mata bahagia yang kuseka di sana
Hai Gar,
Kamu yang kukenal tak lebih dan tak kurang sebagai seorang pencinta sastra. Kamu sang pemimpi yang akhirnya menjadi pemimpin. Kamu yang percaya bahwa aku bisa dan mampu. Kamu yang mengajariku banyak hal tentang hidup, tentang hal kecil dan hal besar yang ada di kehidupan, dan tentang menjadi manusia seutuhnya.

Hai Joh,
Kamu yang lebih sering jadi lawan duel otak maupun adu mulut. Kamu yang sungguhlah menyebalkan, tapi itu hanya caramu untuk mengajarkanku untuk menjadi individu yang lebih baik. Kamu yang memberikan contoh untuk memikirkan pihak lain dalam pengambilan keputusan.

Hai Ar,
Kamu yang mengajariku banyaaaaaaaaaak sekali. Sepertinya tanganku akan sangat lelah kalau semuanya kutuliskan haha. Kamu mengajariku apa itu hidup yang bermanfaat bagi orang lain. Kamu yang mengajariku bahwa pengorbanan itu diperlukan untuk mencapai kebaikan yang lebih besar lagi.

Hai Am,
Kamu yang mengajariku agar menjadi manusia tangguh. Kamu yang menamparku dengan kata halus bahwa ada dunia yang lebih besar di luar sana. Kamu yang mengajariku untuk bersyukur. Kamu yang menemaniku muraja’ah sambil melihat bintang. Seru ya? Ayo lagi!

Hai Tec,
Kamu yang mengajariku untuk selalu bersemangat. Kamu yang mengajariku bahwa di setiap diri individu, ada permata indah yang akan kau temui ketika kau mengenalnya dengan baik. Kamu mengajariku bahwa love is the act of giving, not the other way around.

Hai Norm,
Kamu yang mengajariku untuk totalitas dalam melakukan segala hal. Kamu menunjukkan padaku apa yang dapat dicapai oleh seseorang ketika ia terus dan terus belajar. Kamu yang mengajariku untuk menjadi orang yang tangguh, hati maupun jiwa.

Hai En,
Kamu mengajariku bahwa apapun yang terjadi, tersenyumlah. Kamu mengajariku bahwa memiliki batas kemampuan adalah hal yang manusiawi. Kamu yang mengajariku bahwa pengorbanan itu perlu, supaya diriku tetap sehat.

Hai ha-TIku
Terima kasih banyak atas pelajarannya
Terima kasih
Tetaplah seperti ini
Dan
Ayo kita melompat bersama! 🙂

Aku akan sangaaaat rindu

Happy birthday kembaran beda 5 tahun! Thank you for being a good sister #ea, my partner in crime, and basically my everything ♡

Met nungguin w pulang ke Aceh 😗 – with Nya’ Jeumpa Madani

View on Path

Night Rant

Rasa dalam hidup tak hanya berwujud masalah

Tapi dia yang datang tanpa disangka

Dan tetap disana

Entah sampai kapan

 

Hei kamu

Ayo kita lalui jalan ini

Entah bersama atau sendiri

 

Bersama atau sendiri

Selalu siap siaga, ya?

Berjaga-jaga

Siapa tahu aku akan membutuhkanmu

 

Tapi setelah itu

Tak perlu repot untuk pamit

Kau boleh pergi

 

Mengajari hati tak hanya lewat kata

Tapi juga bisa lewat tatap hangat dan senyum menyenangkan

Maupun kelakar bodoh disela tangis

Mahasiswa di negara berkembang, selain harus pinter mencari cara untuk dapat akses ke jurnal bagus (dan berbayar), juga harus pinter mencari cara supaya bisa belajar ke luar negeri. Karena sesungguhnya…mahal sekali.

Ini tentang akses ke metode pengajaran yang lebih maju, materi yang lebih kaya, diskusi dengan peneliti, dan akses jurnal yang lebih baik.

Tentunya dengan membawa semangat untuk membangun Indonesia agar pada satu titik nanti, kualitas pendidikan kita akan sama baiknya dengan mereka. Agar nanti pendidikan yang lebih baik dapat dikonsumsi berbagai kalangan, bukan hanya kalangan tertentu saja 🙂

*habis ngecek tuition fee & living cost* *how will I pay ’em all* *belajar buat IELTS* *banyakin belajar writing* *grammar I will luv u*

View on Path