Category: Uncategorized

Merasa

Rasanya, baru kemarin

Rupanya, sudah berbulan

Rasanya, ‘itu bulan lalu kan?’

Rupanya, bahkan roti yang kau beli kemarin masih utuh di lemari es

Rasanya, masih lama

Rupanya, tiba-tiba ia sudah disini

 

Waktu itu untuk dirasa

Agar bisa melihat rupa

 

Advertisements

Menggunakan kapal Pompong, kami berkunjung ke pulau Penyengat, sekitar 20 menit perjalanan dari pulau Bintan. Dulu, pulau ini adalah ibukota Kerajaan Riau dan menjadi mahar ketika Sultan Mahmud menikahi Engku Putri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah (so kewl!).

Kami pun berkeliling pulau menggunakan bentor yang desainnya menggemaskan :3. Beberapa diantara tempat-tempar yang kami kunjungi adalah:

1. Masjid putih telur. Masjid ini menggunakan putih telur sebagai campuran bahan bangunannya, sehingga memakan waktu yang cukup lama hingga selesai.

2. Makan Raja Ali Haji, salah satu pahlawan nasional di bidang sastra yang terkenal dengan Gurindam Dua Belas.

3.Balai Adat sebagai tempat berkumpul dan berkumpul masyarakat pulau Penyengat.

Sekali-kali seru juga wisata religi begini 😀 – at Pulau Penyengat

View on Path

Separation Blues

It’s a humanly thing to feel this way. We were born with it. Those crying when you were baby because momma is away from your sight. Those first school day. And the most important thing, as a human being, is to acknowledge this feeling. The process of acknowledging this feeling would make it easier for us to face and adapt to it.

Is the time is near for me? We shall see.

The Conundrum Journal

Being the first kid in the family, I had been used to being the one who left. The one who is being dropped off, sent off, and called in from miles away.

My first departure from home took place way back when I was only 14—it was my first night at the boarding school. I cried myself to sleep; wanting the separation to be over the next morning, but of course it didn’t. I remembered feeling devastated. The darkness made it impossible to think about anything else than the comfortable place where everyone I loved were, where I could sleep with the lights on.

I remembered missing the familiar texture of my bed. I didn’t know then, but I know now that I cried for selfish reasons.

Good for me, I figured out soon that the distance between Tangerang Selatan and Bogor was less than two hours. I figured…

View original post 930 more words

on believing

Sometimes, I think people don’t see the real me. When they said that I am good at certain things. Or I can do this and that.

But in the other hand, I think it’s just me who don’t know my potential or don’t believe in things I can do

But people won’t say anything unless they know you, they can see what are you doing.

What to do
What to do
What to do

That random talk after this sunset began with me whining about myself and this beloved city, about why do I sometimes (if not most of the time) look at the negative sides and nyinyirin everything and everywhere possible

to “don’t just talk about the phenomenon and identify the social problem, like u still working on your bab 1. Go finish your research and you can dig and analyze better – bapake”

until we finally reach the core discussion, where finding “makna hidup” is as important as finding your “makna mati”, cuz isn’t it your life goal? 🙂

View on Path

Beberapa orang mungkin tahu betapa tidak sukanya aku pada negeri ini.

Terdengar sangat jahat, ya? Haha
Aku tidak suka pada birokrasi busuk di negara ini. Aku tidak suka pada banyaknya ketidakadilan yang dilakukan oleh mereka yang merasa punya kuasa. “Mereka ga mikir apa dampak dari kelakuan mereka itu gimana?” Batinku, terkadang. Aku tidak suka pada banyaknya intrik busuk, saling cela, saling tuding dan tuduh yang “mereka” lakukan untuk menutupi kejahatannya. Membaca Tempo bulan ini,
edisi blak-blakan tentang kisah di balik layar pengungkapan kasus-kasus besar di Indonesia, menguatkan rasa ketidaksukaanku. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak memikirkan dampak korupsinya pada bangsanya? Bagaimana mungkin ada orang yang tega menggunakan uang negara, dari yang Em-Em-an hingga berpuluh Te, untuk diri sendiri, keluarga, organisasi, maupun “bekingannya”. Dipikir uang negara itu punya nenek moyangnya apa?

Tapi setelah membaca seluruh artikelnya, aku belajar melihat sisi lain dari masalah-masalah yang ada di Indonesia tercinta ini.

Bahwa ada banyak manusia, dengan segala peran dan usahanyanya, berusaha menjadi cahaya di tengah kegelapan. Ada mereka yang berusaha menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Mulai dari investigasi, penelusuran data, pengecekan berulang kali hingga mengungkapkan hasil temuannya ke publik. Ada mereka yang rela mengorbankan keamanan diri maupun keluarga ketika melakukan liputan maupun memberikan kesaksian. Ada mereka yang gerah dengan fenomena busuk didepannya sehingga membuka mulut, beserta data yang ia punya agar kasus tersebut terselesaikan. Ada mereka yang masih percaya bahwa publik harus tahu yang sebenarnya sehingga berusaha memberikan edukasi dengan cara yang tepat.

Paling tidak, kini rasa ketidaksukaanku diimbangi dengan rasa percaya. Percaya bahwa masih ada (dan semoga masih banyak) orang-orang yang terus berjuang agar bangsa ini, Indonesia ini, menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Selamat ulang tahun, Tempo! Terima kasih sudah menemaniku dari dulu, sekarang, dan hingga nanti.

Ps: Terima kasih untuk hadiah rasa percayanya! 🙂

View on Path