Category: Psikoplak!

Lulus nih?

Kelulusan sejatinya adalah sebuah proses pelepasan, sebuah proses kehilangan.

Lulus berarti kehilangan tempat nyaman bernama kampus Psikologi UI tercinta, yang selalu berhasil menawarkan ketenangan ditengah hiruk pikuk tugas dan rapat yang saling berkejaran tanpa henti.

Lulus berarti kehilangan kesempatan untuk bertatap muka dengan para pengajar yang sungguh tulus memberikan kami pengetahuan, baik yang kami terima dengan baik maupun tidak.

Lulus berarti kehilangan kesempatan untuk bertemu teman-teman yang selalu menawarkan sapaan, senyuman, maupun pelukan hangat.

Tapi

Lulus juga merupakan seremoni, sebagai titik tertinggi dari pencapaian seorang mahasiswa S1.

Lulus juga merupakan titik nadir dari proses yang akan dilalui berikutnya. Entah itu menerapkan ilmu yang sudah didapatkan, memuaskan dahaga akan ilmu pengetahuan, atau proses pengembaraan mencari tujuan hidup.

Proses pelepasan ini sebaiknya juga dihinggapi dengan rasa syukur. Karena sebagai individu, tak mungkin rasanya mencapai titik ini tanpa bantuan banyak orang. Dimulai dari do’a orang tuamu di tengah malam, teman mengerjakan tugas, teman cabut kuliah, teman cerita, teman makan, dan berbagai jenis teman lainnya. Juga dengan bantuan teman hidup 😃

Sehingga, proses kelulusan ini seyogyanya tidak hanya dihinggapi dengan perasaan sedih karena kehilangan tempat yang nyaman, perasaan bahagia karena akhirnya mampu mencapai gelar baru, tapi juga perasaan tertantang dan bersemangat karena akan segera melalui tantangan hidup berikutnya.

Selamat lulus, teman-temanku tersayang! Siap berlari untuk tantangan berikutnya? 😀

Advertisements

Gadis berhati salju.

Hai Mia!
Semoga dengan membaca tulisan ini.. ah aku tak berharap apapun. Kau membacanya saja aku sudah senang. Selamat membaca 🙂

Pertama kali kenal Mia, selintas kenal. (hanya) salah satu teman seangkatan di Psikologi UI ’12. Pun aku tidak begitu mengenal siapa-siapa saja, angkatanku terdiri dari 320 orang! Jangan salahkan aku :p

Kenal dekat setelah di Simposium Kesehatan jiwa 2013, Mia yang ditunjuk untuk menjadi PJ Acara kesulitan mencari WaPJnya, dan setelah ditolah mentah-mentah olah banyak orang, akhirnya pilihan jatuh padaku, yang langsung mengiyakan.

Sejak saat itu, hingga detik ini , aku masih belajar dan terus belajar. Dekat dengan Mia selama lebih dari 3 bulan masa persiapan Simposium membawa banyak hal baru dalam hidupku. Tentang bagaimana kau harus total dalam mengerjakan tugasmu, akademis maupun non-akademis, tentang bagaimana aku sedikit mulai sedikit merasa risih pada baju “nanggung” dan skinny jeansku, tentang bagaimana kerja keras dan kerja dalam kelompok itu.

Dari Simposium aku belajar banyak, tentang bagaimana kau harus peduli pada temanmu, karena ketika satu sakit, maka seluruhnya akan merasakan dampaknya. “Korban” kepedulian Mia yang luar biasa adalah aku, yang harus sering diingatkan untuk makan, minum obat, dan istirahat. Mia juga yang menyebarkan pesan di grup Whatsapp! Simposium untuk mewanti-wanti yang lain agar memperhatikan pola makanku, dan yang selalu, dan akan selalu bertanya ketika kami berpapasan di kampus, “udah makan?”, “apa kabar?” dan serangkaian bentuk kepedulian lainnya.

Ah, aku diberkati dengan dikelilingi orang-orang yang peduli pada yang lain tanpa pretensi apapun, seperti dirimu.

Ada hal lain yang baru-baru ini aku sadari. Kebiasaanku untuk menulis rupanya dipicu oleh dua akhwat yang luar biasa ini, Mbak Avina dan Mia. Mereka mengajarkanku untuk menuangkan isi kepala melalui ujung jari bertemu dengan papan ketik ini. Dan ketika kepalamu penuh dengan berbagai hal yang tak bisa kau katakan dengan jelas, ketika kepalamu penuh dengan berbagai hal yang tak bisa kau teriakkan dengan lantang, maka wadah ini menjadi penyalurnya.

Dan satu lagi tentang Mia, dia yang pertama kali tahu siapa yang kumaksud dengan ‘dia’. Dan aku tak pernah tahu, berbagi cerita tentang Dia akan semenyenangkan ini denganmu.

Akhir kata, selamat 29 September yang ke 19 kali! Semoga umurmu diberkati olehNya, dan kita sama-sama saling memantaskan diri.

With love,
Nyaza.