Category: Kupu-kupu

Breaking a Fast: One Beautiful Promise

This is our love for love

Our love for the Almighty

Our love for the Hereafter

Our love for the Propbet Muhammad (PBUH) and his families

 

This is us

Once again

Trying to be the best version of ourselves

 

Things got awry once

And we managed to drift away from the storm

Things got jumble once

And we managed to sort things our

Put everything into its place

We’ve been through hills and valleys

We’ve screamed against the waves

Crushing the cliffs beneath us

 

Now the sea is calm

It’s time to lift up the sail

 

Time to run

To collect every pieces our hands and whole hearts can keep

To collect every golden ticket to reach Jannah

Side by side

 

Don’t forget

We have a promise to break our fast, together

 

Thank You is in Order.

We, you and me, are humans made from layers of experiences. One time, last year, we realize our layers start to intertwine. Here we are.

15 months later and we are able to sort things out based on priorities, what we want to be, what kick us in the morning, what relaxed us, what we like about each other, and what need to be improved.

I love the idea of us. I love our imperfections and the sound of ‘click’ when the gyrus and sulcus meet (that is the hills and gorges of the brain, or in other words, our ups and downs.)

I easily laughed when you joke around only to bring back the smile. I get ‘gemash’ (in a good way) when you are being ‘receh’. I am lost of words when you are being cheezy, that despite my limited words, my heart flattered.

Cannot thank you enough, dear.
I cannot.

Thank you for sticking around, B. Looking forward for infinity beyond with you.

Rabu rasa coklat hangat yang lumer di lidah.

Hari ini cukup ajaib untukku. Tadi pagi bangun dengan muka dan mood yang paling baik sepanjang bulan ini. Bahkan, rasanya rasa bahagia pagi tadi ketika membuka mata jauh lebih menyenangkan, jauh lebih manis dibandingkan dengan 4 Oktober kemarin.

Bangun pagi di hari pertama Ujian Tengah Semester. Mata Kuliah pertama hari ini adalah Metode Wawancara. Mata Kuliah yang “teknis” sekali. Tapi, setelah dijalani, yah alhamdulillah tak sesulit yang kubayangkan. Semoga semuanya lancar hingga akhir Aamiin!

Keluar ruang ujian, bertemu dengan Mia dan Dara. Bertukar “senyum penuh arti”, lalu bertemu Icha. Dan dari sini keanehan diri ini terjadi.

Mulanya berawal ketika aku menulis di akun Twitterku, mengungkapkan keherananku karena banyaknya yang jadian di sekitarku. Lalu “kode” pun bertebaran, dan Icha hinggap di salah satu percakapanku dengan Rifqi. Aku tak akan menjelaskan padamu apa isinya :p intinya, Icha cukup penasaran hingga Icha akhirnya membobardirku dengan pertanyaan.

Dan akhirnya Icha tahu.
Reaksi pertama:
HAHAHAHAHAHA dunia ini berjalan dengan cara yang menurutku paling tak mungkin sekalipun.

Oh iya, tahu permen nano nano? Permen rasa manis-asam-asin? Hidupku rasanya seperti itu hari ini. Aku bahagia 🙂

Salam rasa Markisa,
Nyaza.

Hari ini, kupu-kupu.

Tolong jawab pertanyaan ini, kenapa jatuh cinta itu meyenangkan?

Pernah jatuh cinta? Sekecil apapun rasa itu, sesulit apapun untuk mengabaikannya, ia ada di sana.

Dan malam ini, para kupu-kupu memenuhi perutku yang sudah terisi sebagian dengan makan malam bersama kami hari ini. Muka ini menjadi lebih cepat memerah dari biasanya. Wah, aku bisa tersipu malu!

Kau yang memaksaku, dengan cara yang tak pernah aku pikirkan, untuk membenahi diri, memantaskan diri.

Terima kasih!

Seseorang, yang sibuk menenangkan para kupu-kupu yang bersorak riuh rendah,
Nyaza.

Merah jambu, atau merah muda?

Setelah beberapa lama, ada yang berhasil mengepakkan sayap indah kupu-kupu itu didekatku. Kepakan sayapnya menghangatkan udara yang, entahlah, mungkin sempat beku. Bernafas rasanya menjadi lebih nyaman, dan segala sesuatu terlihat lebih bersinar, lebih baik, lebih menyegarkan, lebih berwarna, lebih indah.

Karena kepakan sayap kupu-kupu selalu membuatku bahagia, dan yang ini mampu membuatku bersemu, entah merah jambu atau merah muda.

(bukan seorang pemerhati kupu-kupu)