Category: Jagoan neon

On Being 21

Anggaplah gue selalu mendapat tugas untuk menulis esai reflektif di setiap ulang tahun gue. Setiap esainya menggambarkan rasa syukur atas apa yang telah gue capai, atas evaluasi atas diri, atas umpan balik dari keluarga dan teman—teman selama satu tahun belakangan, serta harapan terhadap diri ini setahun kedepan.

YEY finally it’s another 4th of October, my favorite day of the year where the presence of the lovely people around me energizes me and become sort of a recharge for my Need of Affection and Need for Temen Ngobrol.


On Being 21 years old, part one

Hari ini, 4 Oktober 2015 dimulai dengan cara yang kurang lebih sama dengan tahun lalu. Hari ini dimulai dengan isak tangis hingga sesenggukan. Terdengar sedih ya? Sesungguhnya tidak, lho. Aku merasa, terutama untuk apa yang terjadi dini hari tadi, menjadi petunjuk bahwa ternyata ini namanya sebuah keluarga. Tangis itu juga membuatku sadar bahwa yang “Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi” (Darmono, dalam Sofa, 2015). Tangis itu, dan beberapa perbincangan setelahnya, memberikanku sebuah pemahaman tentang bagaimana menjadi bermanfaat bagi orang lain. Keluarga itu abadi, terlepas dekat-jauhnya kita secara fisik. Keluarga, dalam konteks ini, juga berarti bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain semaksimal mungkin. Keluarga itu bukan tentang kata-kata penuh puja puji, tapi juga evaluasi jujur agar saudaranya dapat menjadi insan yang lebih baik lagi.

(aku ngomong apa sih)

Semoga di sisa waktu kepengurusan ini kita dapat memberikan performa yang JAUUUUH lebih baik lagi dan kita berkembang menjadi jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Manfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik mungkin.

Intinya, aku sayang Tim Intiku dengan semua ketidakjelasan kalian, yang penting sih aku sayang.


On Being 21 years old, part two

Entah sejak kapan aku mulai berpikir, bahwa ketika kau berulang tahun, harusnya yang diberi selamat itu adalah orang tuamu. Kenapa? Karena mereka yang sudah menjagamu dan merawatmu selama kau hidup. Dalam kisah hidupku, ini berarti sudah 21 tahun lamanya.

Then, I would like to say huge thanks to my beloved parents for raising me until your daughter is this old and “big” now (*cough*). Maafkan anaknya yang lagi bandel-bandelnya belakangan ini. Believe me, I am currently learning what to do and what not to do. After all, udah gede malu kelakuannya masih kaya bocah. Semoga dimaafkan segala kesalahan anaknya yang sebanyak buih di lautan dikali seribu. Do’akan segala kegiatan dan rencana anaknya ini dilancarkan. Karena bagaimanapun, ridha anak ada para orang tuanya.

Terima kasih, Ayah dan Bunda!


On being 21 years old, part three

There are people that you thank them simply because they are in your life, either stay or cross your path and leave some worthy life-lessons for you.

Ketika membaca berbagai ucapan ulang tahun yang dikirimkan, disaat itu kau akan tahu bahwa dikelilingi oleh orang-orang baik disekitarmu itu sangaaat menyenangkan. Tak terbatas ruang dan waktu, kau masih dapat merasakan kepedulian mereka terhadapmu, limpahan rasa sayang sebagai sahabat yang saling menjaga satu sama lain.

Untuk semua do’a dan kebaikan hatinya, untuk semua pelukan yang memberikan rasa aman dan nyaman, untuk semua senyuman dan tawa yang mampu mewarnai hari yang paling kelabu sekalipun, TERIMA KASIH!


On being 21 years old, part four

And by the end, no matter how much you receive feedback from others, as long as you don’t give a damn about it, you will still be the same you like years ago.

Aku tidak secara spesifik mengingat apa do’a dan harapan akan kebaikan yang disematkan kepadaku tahun lalu. Samar, aku mengingat harapan semoga aku sehat selalu (alhamdulillah kesehatanku lebih baik dibanding beberapa tahun yang lalu). Ada juga harapan agar aku sukses menjalankan amanahku tahun ini di BEM (aku masih punya beberapa bulan untuk membuktikan bahwa aku bisa membawa Bidang Pengembangan Organisasi ini ke arah yang lebih baik). Ada do’a agar segera punya pacar (err mungkin lingkungan sekitarku sudah memberikan aku banyak sekali cinta dan kasih sayang sampai meluap-luap sehingga belum butuh pacar) (tapi kalo ada boleh deh) (yha). Ada harapan supaya ngomongnya lebih lambat (percayalah aku sedang berada di proses itu).

Dan do’a-do’a tahun ini sungguh luar biasa. Dari yang mengucapkan pertama kali sehingga membuatku penuh dengan hangatnya rasa bahagia, hingga yang sengaja mengucapkan di detik-detik akhir supaya aku membawa kenangan manis itu ke alam mimpi.

Aku terharu ketika menyadari betapa seseorang menghargai keberadaanku.

Aku bahagia ketika tahu aku berada dalam jalan yang benar untuk bisa bermanfaat maksimal bagi orang lain.

Aku terkejut dan merasa sangat disayang ketika bahkan yang lama tak bersua pun rela mengorbankan beberapa menitnya yang berharga untuk menyampaikan do’a dan harapan.

Terima kasih atas perhatian, rasa sayang, evaluasi, kerjasama, senyum ramah serta pelukan hangatnya untuk hari ini. Ku senang punya teman seperti kalian.

Semoga do’a terbaik kembali ke kalian!

Hari ini, kupu-kupu.

Tolong jawab pertanyaan ini, kenapa jatuh cinta itu meyenangkan?

Pernah jatuh cinta? Sekecil apapun rasa itu, sesulit apapun untuk mengabaikannya, ia ada di sana.

Dan malam ini, para kupu-kupu memenuhi perutku yang sudah terisi sebagian dengan makan malam bersama kami hari ini. Muka ini menjadi lebih cepat memerah dari biasanya. Wah, aku bisa tersipu malu!

Kau yang memaksaku, dengan cara yang tak pernah aku pikirkan, untuk membenahi diri, memantaskan diri.

Terima kasih!

Seseorang, yang sibuk menenangkan para kupu-kupu yang bersorak riuh rendah,
Nyaza.

Gadis berhati salju.

Hai Mia!
Semoga dengan membaca tulisan ini.. ah aku tak berharap apapun. Kau membacanya saja aku sudah senang. Selamat membaca 🙂

Pertama kali kenal Mia, selintas kenal. (hanya) salah satu teman seangkatan di Psikologi UI ’12. Pun aku tidak begitu mengenal siapa-siapa saja, angkatanku terdiri dari 320 orang! Jangan salahkan aku :p

Kenal dekat setelah di Simposium Kesehatan jiwa 2013, Mia yang ditunjuk untuk menjadi PJ Acara kesulitan mencari WaPJnya, dan setelah ditolah mentah-mentah olah banyak orang, akhirnya pilihan jatuh padaku, yang langsung mengiyakan.

Sejak saat itu, hingga detik ini , aku masih belajar dan terus belajar. Dekat dengan Mia selama lebih dari 3 bulan masa persiapan Simposium membawa banyak hal baru dalam hidupku. Tentang bagaimana kau harus total dalam mengerjakan tugasmu, akademis maupun non-akademis, tentang bagaimana aku sedikit mulai sedikit merasa risih pada baju “nanggung” dan skinny jeansku, tentang bagaimana kerja keras dan kerja dalam kelompok itu.

Dari Simposium aku belajar banyak, tentang bagaimana kau harus peduli pada temanmu, karena ketika satu sakit, maka seluruhnya akan merasakan dampaknya. “Korban” kepedulian Mia yang luar biasa adalah aku, yang harus sering diingatkan untuk makan, minum obat, dan istirahat. Mia juga yang menyebarkan pesan di grup Whatsapp! Simposium untuk mewanti-wanti yang lain agar memperhatikan pola makanku, dan yang selalu, dan akan selalu bertanya ketika kami berpapasan di kampus, “udah makan?”, “apa kabar?” dan serangkaian bentuk kepedulian lainnya.

Ah, aku diberkati dengan dikelilingi orang-orang yang peduli pada yang lain tanpa pretensi apapun, seperti dirimu.

Ada hal lain yang baru-baru ini aku sadari. Kebiasaanku untuk menulis rupanya dipicu oleh dua akhwat yang luar biasa ini, Mbak Avina dan Mia. Mereka mengajarkanku untuk menuangkan isi kepala melalui ujung jari bertemu dengan papan ketik ini. Dan ketika kepalamu penuh dengan berbagai hal yang tak bisa kau katakan dengan jelas, ketika kepalamu penuh dengan berbagai hal yang tak bisa kau teriakkan dengan lantang, maka wadah ini menjadi penyalurnya.

Dan satu lagi tentang Mia, dia yang pertama kali tahu siapa yang kumaksud dengan ‘dia’. Dan aku tak pernah tahu, berbagi cerita tentang Dia akan semenyenangkan ini denganmu.

Akhir kata, selamat 29 September yang ke 19 kali! Semoga umurmu diberkati olehNya, dan kita sama-sama saling memantaskan diri.

With love,
Nyaza.