Month: August 2016

Lulus nih?

Kelulusan sejatinya adalah sebuah proses pelepasan, sebuah proses kehilangan.

Lulus berarti kehilangan tempat nyaman bernama kampus Psikologi UI tercinta, yang selalu berhasil menawarkan ketenangan ditengah hiruk pikuk tugas dan rapat yang saling berkejaran tanpa henti.

Lulus berarti kehilangan kesempatan untuk bertatap muka dengan para pengajar yang sungguh tulus memberikan kami pengetahuan, baik yang kami terima dengan baik maupun tidak.

Lulus berarti kehilangan kesempatan untuk bertemu teman-teman yang selalu menawarkan sapaan, senyuman, maupun pelukan hangat.

Tapi

Lulus juga merupakan seremoni, sebagai titik tertinggi dari pencapaian seorang mahasiswa S1.

Lulus juga merupakan titik nadir dari proses yang akan dilalui berikutnya. Entah itu menerapkan ilmu yang sudah didapatkan, memuaskan dahaga akan ilmu pengetahuan, atau proses pengembaraan mencari tujuan hidup.

Proses pelepasan ini sebaiknya juga dihinggapi dengan rasa syukur. Karena sebagai individu, tak mungkin rasanya mencapai titik ini tanpa bantuan banyak orang. Dimulai dari do’a orang tuamu di tengah malam, teman mengerjakan tugas, teman cabut kuliah, teman cerita, teman makan, dan berbagai jenis teman lainnya. Juga dengan bantuan teman hidup 😃

Sehingga, proses kelulusan ini seyogyanya tidak hanya dihinggapi dengan perasaan sedih karena kehilangan tempat yang nyaman, perasaan bahagia karena akhirnya mampu mencapai gelar baru, tapi juga perasaan tertantang dan bersemangat karena akan segera melalui tantangan hidup berikutnya.

Selamat lulus, teman-temanku tersayang! Siap berlari untuk tantangan berikutnya? 😀

Separation Blues

It’s a humanly thing to feel this way. We were born with it. Those crying when you were baby because momma is away from your sight. Those first school day. And the most important thing, as a human being, is to acknowledge this feeling. The process of acknowledging this feeling would make it easier for us to face and adapt to it.

Is the time is near for me? We shall see.

The Conundrum Journal

Being the first kid in the family, I had been used to being the one who left. The one who is being dropped off, sent off, and called in from miles away.

My first departure from home took place way back when I was only 14—it was my first night at the boarding school. I cried myself to sleep; wanting the separation to be over the next morning, but of course it didn’t. I remembered feeling devastated. The darkness made it impossible to think about anything else than the comfortable place where everyone I loved were, where I could sleep with the lights on.

I remembered missing the familiar texture of my bed. I didn’t know then, but I know now that I cried for selfish reasons.

Good for me, I figured out soon that the distance between Tangerang Selatan and Bogor was less than two hours. I figured…

View original post 930 more words