Month: March 2016

That random talk after this sunset began with me whining about myself and this beloved city, about why do I sometimes (if not most of the time) look at the negative sides and nyinyirin everything and everywhere possible

to “don’t just talk about the phenomenon and identify the social problem, like u still working on your bab 1. Go finish your research and you can dig and analyze better – bapake”

until we finally reach the core discussion, where finding “makna hidup” is as important as finding your “makna mati”, cuz isn’t it your life goal? 🙂

View on Path

Advertisements

Happy birthday, Bro!

Semester 1 –> Filsafat Psikologi
Semester 2 –> Simposium 2013
Semester 3 –> PDKM 2013
Semester 4 –> –
Semester 5 –> PDKM 2014
Semester 6 –> BEM 2015
Semester 7 –> BEM 2015
Semester 8 –> Tim Independen

Dari delapan semester di Psikologi, ternyata hanya satu semester yang gue ga kerja bareng lo, Yik. Kenyang gue, kenyang! Haha.

Selamat bertambah umur, Pak! Semoga umurnya makin berkah bagi diri sendiri dan banyak orang. Berikut terlampir do’a dan harapan gue buat lo setahun kedepan.

(more…)

Beberapa orang mungkin tahu betapa tidak sukanya aku pada negeri ini.

Terdengar sangat jahat, ya? Haha
Aku tidak suka pada birokrasi busuk di negara ini. Aku tidak suka pada banyaknya ketidakadilan yang dilakukan oleh mereka yang merasa punya kuasa. “Mereka ga mikir apa dampak dari kelakuan mereka itu gimana?” Batinku, terkadang. Aku tidak suka pada banyaknya intrik busuk, saling cela, saling tuding dan tuduh yang “mereka” lakukan untuk menutupi kejahatannya. Membaca Tempo bulan ini,
edisi blak-blakan tentang kisah di balik layar pengungkapan kasus-kasus besar di Indonesia, menguatkan rasa ketidaksukaanku. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak memikirkan dampak korupsinya pada bangsanya? Bagaimana mungkin ada orang yang tega menggunakan uang negara, dari yang Em-Em-an hingga berpuluh Te, untuk diri sendiri, keluarga, organisasi, maupun “bekingannya”. Dipikir uang negara itu punya nenek moyangnya apa?

Tapi setelah membaca seluruh artikelnya, aku belajar melihat sisi lain dari masalah-masalah yang ada di Indonesia tercinta ini.

Bahwa ada banyak manusia, dengan segala peran dan usahanyanya, berusaha menjadi cahaya di tengah kegelapan. Ada mereka yang berusaha menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Mulai dari investigasi, penelusuran data, pengecekan berulang kali hingga mengungkapkan hasil temuannya ke publik. Ada mereka yang rela mengorbankan keamanan diri maupun keluarga ketika melakukan liputan maupun memberikan kesaksian. Ada mereka yang gerah dengan fenomena busuk didepannya sehingga membuka mulut, beserta data yang ia punya agar kasus tersebut terselesaikan. Ada mereka yang masih percaya bahwa publik harus tahu yang sebenarnya sehingga berusaha memberikan edukasi dengan cara yang tepat.

Paling tidak, kini rasa ketidaksukaanku diimbangi dengan rasa percaya. Percaya bahwa masih ada (dan semoga masih banyak) orang-orang yang terus berjuang agar bangsa ini, Indonesia ini, menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Selamat ulang tahun, Tempo! Terima kasih sudah menemaniku dari dulu, sekarang, dan hingga nanti.

Ps: Terima kasih untuk hadiah rasa percayanya! 🙂

View on Path