Month: September 2013

Gadis berhati salju.

Hai Mia!
Semoga dengan membaca tulisan ini.. ah aku tak berharap apapun. Kau membacanya saja aku sudah senang. Selamat membaca 🙂

Pertama kali kenal Mia, selintas kenal. (hanya) salah satu teman seangkatan di Psikologi UI ’12. Pun aku tidak begitu mengenal siapa-siapa saja, angkatanku terdiri dari 320 orang! Jangan salahkan aku :p

Kenal dekat setelah di Simposium Kesehatan jiwa 2013, Mia yang ditunjuk untuk menjadi PJ Acara kesulitan mencari WaPJnya, dan setelah ditolah mentah-mentah olah banyak orang, akhirnya pilihan jatuh padaku, yang langsung mengiyakan.

Sejak saat itu, hingga detik ini , aku masih belajar dan terus belajar. Dekat dengan Mia selama lebih dari 3 bulan masa persiapan Simposium membawa banyak hal baru dalam hidupku. Tentang bagaimana kau harus total dalam mengerjakan tugasmu, akademis maupun non-akademis, tentang bagaimana aku sedikit mulai sedikit merasa risih pada baju “nanggung” dan skinny jeansku, tentang bagaimana kerja keras dan kerja dalam kelompok itu.

Dari Simposium aku belajar banyak, tentang bagaimana kau harus peduli pada temanmu, karena ketika satu sakit, maka seluruhnya akan merasakan dampaknya. “Korban” kepedulian Mia yang luar biasa adalah aku, yang harus sering diingatkan untuk makan, minum obat, dan istirahat. Mia juga yang menyebarkan pesan di grup Whatsapp! Simposium untuk mewanti-wanti yang lain agar memperhatikan pola makanku, dan yang selalu, dan akan selalu bertanya ketika kami berpapasan di kampus, “udah makan?”, “apa kabar?” dan serangkaian bentuk kepedulian lainnya.

Ah, aku diberkati dengan dikelilingi orang-orang yang peduli pada yang lain tanpa pretensi apapun, seperti dirimu.

Ada hal lain yang baru-baru ini aku sadari. Kebiasaanku untuk menulis rupanya dipicu oleh dua akhwat yang luar biasa ini, Mbak Avina dan Mia. Mereka mengajarkanku untuk menuangkan isi kepala melalui ujung jari bertemu dengan papan ketik ini. Dan ketika kepalamu penuh dengan berbagai hal yang tak bisa kau katakan dengan jelas, ketika kepalamu penuh dengan berbagai hal yang tak bisa kau teriakkan dengan lantang, maka wadah ini menjadi penyalurnya.

Dan satu lagi tentang Mia, dia yang pertama kali tahu siapa yang kumaksud dengan ‘dia’. Dan aku tak pernah tahu, berbagi cerita tentang Dia akan semenyenangkan ini denganmu.

Akhir kata, selamat 29 September yang ke 19 kali! Semoga umurmu diberkati olehNya, dan kita sama-sama saling memantaskan diri.

With love,
Nyaza.

Advertisements

(not) just another September.

Kepada adik yang paling disayang di seluruh dunia, Aidina Ashura.

Sebelum memulai kisah dibawah ini, izinkan aku, Nyanya’ mengucapkan hal ini :
SELAMAT TANGGAL 25 SEPTEMBER YANG KE 19 KALI!
Do’aku akan aku uraikan dibawah ini. Semoga Sang Pemilik Semesta mengaminkannya ya : )

Dia menganggapku sebagai kakak, entah dari mana asal muasalnya. Entah bagaimana juga kami akhirnya bisa seperti perangko, bertiga sama Shella yang jadi suratnya. Entah bagaimana juga, aku juga tak tahu.

image

Ini foto saat kami bermain bersama di Dunia Fantasi aka Pantai Ulee Lheu, check point favorit kami, Nyanya’, Aidina, Shella, dan Husnul. Saat foto ini diambil, dia sedang sendu, karena akan meninggalkan kami untuk mengurus penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2012-2013. Saat itu, disaat kami semua tertawa karena hal sepele seperti tingkah Husnul dan Shella, atau hanya terdiam menikmati matahari tenggelam.

image

Kau tentu tahu ini apa. Ya, ini jenis alas kaki favoritnya. Aidina yang sering dipanggil “Abang Ganteng” ini memang fans berat sneakers. Saking cintanya, sneakers hitam favoritnya saat SMA (seingatku) tidak pernah kena air alias dicuci! (kecuali ketika terkena air hujan). Mungkin jimatnya akan hilang seiring dengan sentuhan sabun pada permukaan kanvas hitam alas kakinya itu. Kaki Aidina sedang dan akan selalu melangkah ke arah yang lebih baik. Kuatkan kaki yang penuh harapan dan impian itu, wahai Sang Penggenggam mimpi. Tunjukkan ia jalan yang Engkau Ridhai, dan kuatkanlah ia.

Do’aku yang terakhir, semoga kau menjadi sahabat yang semakin baik, semakin kuat, dan semakin sabar. Dan kemampuanmu semakin baik dalam fotografi. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang super A-WE-SOME!
Salam, your-so-called-sister
Nyaza.

image

(PS: tulisan ini dicek tiga kali HANYA untuk memastikan tidak ada typo. Kalau masih ada, mohon dimaafkan :))

Flashback

Sudah setahun rupanya, sejak aku menginjakkan kaki di tempat yang awalnya takut tak bisa kugapai. Toh akhirnya aku disini juga, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

Image

Setahun yang lalu, aku hanyalah seorang mahasiswa baru, yang wajib mengenakan jaket kuning bermakara biru muda selama sebulan penuh sebagai bagian dari aturan dalam masa Prosesi (masa pengenalan kampus). Setahun yang lalu, aku hanyalah seorang anak, yang walaupun lahir dan besar di Jakarta, tetap saja mengalami gegar budaya, setelah bertahun lamanya tinggal di provinsi lain. Setahun yang lalu, aku hanyalah seorang anak yang “sok jagoan”, pengennya kesana kemari sendirian. Padahal, itu hanya kata lain dari aku yang entah kenapa cukup segan untuk mulai berkenalan.

Setelah setahun, dan aku berkaca pada masa lalu, aku sadar bahwa perubahan itu memang nyata. Sejelas itu!

Aku yang sekarang, adalah anak yang sedikit lebih berani untuk menyapa, baik teman seangkatan maupun seniorku. Aku adalah anak yang tak sabar ingin ke kampus, karena ingin bertemu teman-teman, belajar psikologi, atau sekadar mengerjakan tugas. Kuliah semenyenangkan itu ternyata.

Walaupun begitu, aku tidak bisa memungkiri, bahwa permulaan tahun kedua ini cukup berat, dibanding tahun pertama. Riak-riak akademis lebih jelas terlihat, batu sandungan, kecil maupun besar harus mampu dihindari, atau bahkan diselesaikan, sehingga tak akan terjatuh di batu yang sama lagi. Kegiatan diluar kelas kuliah pun cukup memikat hati lagi memikat jadwal. Betapa tidak, jadwalku untuk mengerjakan tugas bersaing ketat dengan jadwal lainnya seperti rapat. Ah, amanah ini terasa indah, dan membuat diri ini bersemangat!

***

Ohiya, setelah mengintip Jurnal milik Mia, aku jadi ingin menuliskan beberapa hal yang ingin aku perbaiki, di paruh kedua tahun 2013 ini. Awalnya, terdengar cukup klise bagi diriku untuk menuliskan hal-hal yang bisa disebut mimpi kecilku. Lagi, sejauh ini aku bukan orang yang cukup berkomitmen pada hal-hal seperti ini. Tapi itu bukan berarti tidak bisa diubah kan? Jadi, ini daftar kecil mimpiku:

–          Ibadah lebih baik. Terasa sekali perbandingan ketika bulan Ramadhan dan diluar Ramadhan. Semangat untuk berlomba dalam kebaikan hilang seiring datangnya wangi ketupat dan rendang… :< ah, padahal beribadah ternyata senikmat itu!

–           Tidak boleh menunda! Dengan jumlah hal yang harus dilakukan, baik di akademis maupun lainnya, menunda hanya akan membuang-buang waktu yang maha berharga ini. Dan semester kemarin sudah memberikan banyak “pengalaman berharga” sebagai dampak dari menunda. Bahkan aku sampai membuat tulisan ini agar menjadi pengingat bagi diri sendiri untuk tidak menunda.

 

Image

–          Perbaikan dalam dunia akademis. Semua yang orangtuamu keluarkan demi pendidikanmu, walaupun mereka mengatakan bahwa kau memiliki hak untuk mendapatkan akses ke fasilitas pendidikan yang lebih baik dan kau seharusnya tidak usah merisaukan hal tersebut, bukan berarti itu bisa menjadi alasan untuk tidak berusaha dengan maksimal kan?

–          Kondisi kesehatan yang lebih baik. Setelah beberapa tragedi saat liburan semester genap kemarin, akhirnya aku sadar bahwa kesehatan memiliki arti yang sangat besar. Sebesar itu. Ketika kau sakit, jangan kau pikir hanya dirimu yang mengalami kesulitan, tapi juga keluargamu.

–          Belajar, belajar dan BELAJAR! Belajar disini tidak hanya terbatas pada belajar secara akademis saja, tapi juga pada hal-hal diluar itu. Aku pernah membaca tentang hal ini, entah dimana,

“Akan selalu ada banyak hal yang bisa kau pelajari dari orang-orang di sekitarmu. Hanya kau saja yang tidak cukup jeli untuk melihatnya.”

Belajar dari memperhatikan sekitarmu, bagaimana mereka berinteraksi, dan bagaimana membuat orang lain tersenyum. Menyenangkan, kan? Dan hal lainnya yang ingin aku pelajari lebih dalam adalah Bahasa! Bahasa mempunyai peran penting dalam banyak, dalam komunikasi salah satunya. Dan belakangan ini, aku mulai menyadari beberapa kelemahanku dalam berbahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa inggris.  Aku bukan murid yang baik memang semasa sekolah dulu, terutama dalam pelajaran bahasa. Aku terlalu malas untuk memperhatikan apa yang guruku terangkan, mengenai penggunaan kata benda, kata sifat, dan kata benda, dan segudang hal lainnya yang sungguh aku anggap remeh dulu. Ketika kuliah dan aku diharuskan untuk mampu menulis essay dengan baik, tentu ejaan menjadi hal yang sangat diperhatikan. Disini aku mulai menyadari bahwa apa yang diajarkan oleh guruku dulu memang ternyata seberguna itu (bahkan aku tidak yakin kata ‘seberguna’ ada didalam KBBI). Selain itu, belakangan dampak dari kurangnya perhatianku terhadap pelajaran bahasa inggris mulai terlihat. Alhamdulillah aku tidak mempunyai banyak kendala ketika berusaha berkomunikasi dalam bentuk verbal. Tapi tidak begitu dengan komunikasi non-verbal. banyak hal yang harus diperbaiki. Tapi kupikir, itu tujuan kita untuk hidup bukan? Untuk terus belajar?

–          Berpakaian dengan lebih baik. Ah, ingin menjadi muslimah yang lebih baik. Mungkin terinspirasi dari kata-kata entah siapa,

“Kalau ingin mendapatkan yang terbaik, ada baiknya kau memantaskan dirimu terlebih dahulu.”

Ketika melihat kata-kata ini, pasti ada satu kata yang sangat mungkin melintas di kepalamu, wahai pembacaku sayang, “JODOH!”. Hayo ngaku saja ~ 😀 mungkin memang iya, aku ingin mendapatkan jodoh dalam karirku kelak. Mendapatkan pekerjaan yang memang aku inginkan, dan sesuai untukku. Memantaskan diri dihadapan Tuhanmu, misalnya. Setelah semua Rahman dan Rahim yang Ia berikan, masa mengikuti anjuran-Nya saja tidak mau? Dan, cita-cita untuk mendapatkan Imam yang baik, lebih baik dariku… ah itu impian yang entah kenapa selalu membuat diriku bersemu merah. Untuk mendapatkan yang terbaik, kau harus jadi yang lebih baik dari kondisimu sekarang kan?

Daaan, demikianlah akhirnya. Setiap huruf yang merindu ujung jari, agar segera dipindahkan ke media lainnya, my Stripes and Blue. Semangati aku ketika aku mulai terlihat tak bersemangat ya!

Salam,

Jagoan Biru Langit.