on believing

Sometimes, I think people don’t see the real me. When they said that I am good at certain things. Or I can do this and that.

But in the other hand, I think it’s just me who don’t know my potential or don’t believe in things I can do

But people won’t say anything unless they know you, they can see what are you doing.

What to do
What to do
What to do

Advertisements

Breaking a Fast: One Beautiful Promise

This is our love for love

Our love for the Almighty

Our love for the Hereafter

Our love for the Propbet Muhammad (PBUH) and his families

 

This is us

Once again

Trying to be the best version of ourselves

 

Things got awry once

And we managed to drift away from the storm

Things got jumble once

And we managed to sort things our

Put everything into its place

We’ve been through hills and valleys

We’ve screamed against the waves

Crushing the cliffs beneath us

 

Now the sea is calm

It’s time to lift up the sail

 

Time to run

To collect every pieces our hands and whole hearts can keep

To collect every golden ticket to reach Jannah

Side by side

 

Don’t forget

We have a promise to break our fast, together

 

Thank You is in Order.

We, you and me, are humans made from layers of experiences. One time, last year, we realize our layers start to intertwine. Here we are.

15 months later and we are able to sort things out based on priorities, what we want to be, what kick us in the morning, what relaxed us, what we like about each other, and what need to be improved.

I love the idea of us. I love our imperfections and the sound of ‘click’ when the gyrus and sulcus meet (that is the hills and gorges of the brain, or in other words, our ups and downs.)

I easily laughed when you joke around only to bring back the smile. I get ‘gemash’ (in a good way) when you are being ‘receh’. I am lost of words when you are being cheezy, that despite my limited words, my heart flattered.

Cannot thank you enough, dear.
I cannot.

Thank you for sticking around, B. Looking forward for infinity beyond with you.

Merasa

Rasanya, baru kemarin

Rupanya, sudah berbulan

Rasanya, ‘itu bulan lalu kan?’

Rupanya, bahkan roti yang kau beli kemarin masih utuh di lemari es

Rasanya, masih lama

Rupanya, tiba-tiba ia sudah disini

 

Waktu itu untuk dirasa

Agar bisa melihat rupa

 

Menggunakan kapal Pompong, kami berkunjung ke pulau Penyengat, sekitar 20 menit perjalanan dari pulau Bintan. Dulu, pulau ini adalah ibukota Kerajaan Riau dan menjadi mahar ketika Sultan Mahmud menikahi Engku Putri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah (so kewl!).

Kami pun berkeliling pulau menggunakan bentor yang desainnya menggemaskan :3. Beberapa diantara tempat-tempar yang kami kunjungi adalah:

1. Masjid putih telur. Masjid ini menggunakan putih telur sebagai campuran bahan bangunannya, sehingga memakan waktu yang cukup lama hingga selesai.

2. Makan Raja Ali Haji, salah satu pahlawan nasional di bidang sastra yang terkenal dengan Gurindam Dua Belas.

3.Balai Adat sebagai tempat berkumpul dan berkumpul masyarakat pulau Penyengat.

Sekali-kali seru juga wisata religi begini 😀 – at Pulau Penyengat

View on Path

Lulus nih?

Kelulusan sejatinya adalah sebuah proses pelepasan, sebuah proses kehilangan.

Lulus berarti kehilangan tempat nyaman bernama kampus Psikologi UI tercinta, yang selalu berhasil menawarkan ketenangan ditengah hiruk pikuk tugas dan rapat yang saling berkejaran tanpa henti.

Lulus berarti kehilangan kesempatan untuk bertatap muka dengan para pengajar yang sungguh tulus memberikan kami pengetahuan, baik yang kami terima dengan baik maupun tidak.

Lulus berarti kehilangan kesempatan untuk bertemu teman-teman yang selalu menawarkan sapaan, senyuman, maupun pelukan hangat.

Tapi

Lulus juga merupakan seremoni, sebagai titik tertinggi dari pencapaian seorang mahasiswa S1.

Lulus juga merupakan titik nadir dari proses yang akan dilalui berikutnya. Entah itu menerapkan ilmu yang sudah didapatkan, memuaskan dahaga akan ilmu pengetahuan, atau proses pengembaraan mencari tujuan hidup.

Proses pelepasan ini sebaiknya juga dihinggapi dengan rasa syukur. Karena sebagai individu, tak mungkin rasanya mencapai titik ini tanpa bantuan banyak orang. Dimulai dari do’a orang tuamu di tengah malam, teman mengerjakan tugas, teman cabut kuliah, teman cerita, teman makan, dan berbagai jenis teman lainnya. Juga dengan bantuan teman hidup 😃

Sehingga, proses kelulusan ini seyogyanya tidak hanya dihinggapi dengan perasaan sedih karena kehilangan tempat yang nyaman, perasaan bahagia karena akhirnya mampu mencapai gelar baru, tapi juga perasaan tertantang dan bersemangat karena akan segera melalui tantangan hidup berikutnya.

Selamat lulus, teman-temanku tersayang! Siap berlari untuk tantangan berikutnya? 😀